Kamis, 20 November 2008

Terbukti Telur Dulu Baru Ayam


Terbukti Telur Dulu, Baru Ayam


University of Calgary
Ilustrasi dinosaurus pemakan daging yang membuat sarang 77 juta tahun lalu.
/
Artikel Terkait:
Dinosaurus Sebesar Bus Bernafas Seperti Burung
Dinosaurus Terkecil Hanya Seukuran Ayam
"Naga" Ternyata Nenek Moyang T-rex
Fosil Burung Zaman Dinosaurus Ditemukan Utuh di China
Spesies Baru Dinosaurus Berjambul dan Berparuh Bebek

Selasa, 18 November 2008 | 07:22 WIB

JAKARTA, SELASA - Teka-teki klasik antara telur dulu atau ayam dulu mungkin terjawab dengan penemuan fosil sarang dinosaurus di Kanada. Di sarang yang dibuat 77 juta tahun lalu itu masih terlihat jelas bekas kumpulan lima butir telur.

"Karakteristik sarang tersebut mirip dengan sarang burung," ujar Francois Therrein, salah satu paleontolog dari Royal Tyrell Museum Alberta, Kanada. Ini berarti bahwa dinosaurus lebih dulu membuat sarang sebagai tempat mengerami telurnya sebelum burung melakukannya. Selama ini, sejumlah pakar evolusi masih berasumsi bahwa burung berkembang dari dinosaurus.

Ukuran sarangnya berdiameter sekitar setengah meter dan diperkirakan seberat 50 kilogram. Di dalamnya setidaknya terdapat bekas 12 cangkang telur yang masing-masing berukuran panjang 12 centimeter dan tersusun rapi serta mengarah ke satu titik.

"Berdasarkan bentuk telur dan sarangnya, kami yakin sarang tersebut buatan seekor caenagnathid atau raptor kecil, keduanya sama-sama pemakan daging dan memiliki kekerabatan yang erat dengan burung," ujar Darla Zelenetsky, peneliti lainnya dari Universitas Calgary, Kanada.

Zelenetsky mempelajarinya sejak disimpan di Canada Fossil Limited Calgary tahun 1990-an. Sebelumnya ia mengira fosil sarang tersebut dibuat seekor dinosaurus herbivora berparuh bebek. Namun, setelah mempelajari lebih seksama, diketahui bahwa sarang tersebut kemungkinan besar dari kelompok theropoda yang merupakan nenek moyang burung.

Monyet Terkecil Masih Hidup



Monyet Terkecil Masih Hidup di Hutan Sulteng


Kamis, 20 November 2008 | 06:48 WIB

WASHINGTON, RABU - Beratnya hanya sekitar 50 gram sehingga tarsius kerdil (Tarsius pumilus) sering dikenal sebagai monyet terkecil dunia meski sesungguhnya bukan termasuk monyet. Makhluk langka dan eksotis yang diduga hanya tinggal tersisa di hutan-hutan Sulawesi Utara ternyata masih hidup di Sulawesi Tengah.

"Ada banyak lusinan ekspedisi untuk mencarinya, semuanya gagal. Saya merasa harus pergi dan berusaha melihat langsung apakah mereka benar-benar ada atau telah punah," ujar Sharon Gursky-Doyen, profesor antropologi dari Texas A&M University, AS.

Usaha Gursky-Doyen membuahkan hasil setelah proposal ekspedisinya didanai National Geographic. Setelah menunggu selama dua bulan, para ilmuwan berhasil menjerat empat ekor tarsius di rimbunnya hutan Gunung Rore Katimbo yang termasuk dalam Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Tarsius tak ditemukan lagi di kawasan tersebut selama 80 tahun terakhir.

Satu di antaranya berhasil lolos dari jeratan. Sementara ketiganya kembali dilepaskan setelah dikalungi pemancar radio agar dapat dilacak pergerakannya. Tak mudah menangkap primata yang besarnya tak lebih dari segenggam tangan sehingga saat memasang alat pelacak tersebut, Gursky-Doyen sempat digigit salah satu tarsius.

Meski ukuran tubuhnya kecil, tarsius memiliki mata besar. Sosoknya dipakai sebagai salah satu karakter dalam film Gremlin tahun 1984. Hewan tersebut termasuk jenis nokturnal atau aktif malam hari dan memangsa serangga.

Tarsius kerdil tak lagi ditemukan di Sulteng sejak tahun 1921 meski masih ada sekitar 1800-an di Sulawesi Utara. Pada tahun 2000, seorang ilmuwan Indonesia tanpa sengaja menemukannya dalam keadaan mati terjerat dalam jebakan tikus. Namun, sejak saat itu tidak pernah ada yang melihatnya hidup-hidup di kawasan tersebut.

Tim yang dipimpin Gursky-Doyen melihat tarsius pertama kali pada Agustus 2008 pada ketinggian 2000 meter. Habitat yang membuatnya bertahan saat ini masih berupa hutan lebat yang berkabut dan sangat dingin.

"Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali interaksi antara penduduk dan hewan yang hidup di sekitar Lore Lindu," ujar Gursky-Doyen. Hal tersebut merupakan cara mempertahanakn eksistensi satwa langka yang unik tersebut.